Merenungi sejarah masa lalu
Menurut cerita orang tua jaman dahulu sebelumnya desa Sidetapa bernama desa Gunung sari Munggah tapa. Di ceritakan bahwa saat jaman itu warga desa di serang penyakit yg sangat mematikan atau orang Bali biasa menyebutnya (gerubug) dan warga yang tersisa hanya ada 33 orang yang akhirnya mengungsi ke sebuah tempat yang sangat sunyi sebelah barat desa yang sangat terisolir di mana tempat itu sekarang bernama "Saksaan tamblang" (air terjun ). Di sini warga mengasingkan diri dari keramaian. Mereka sangat disiplin dalam mengisolasikan diri demi keselamatan dirinya dan keluarga. Tidak pernah menerima orang luar masuk ke daerah saksaan tamblang tersebut.
Di sini mereka bertahan untuk kelangsungan generasinya. Bertahan untuk hidup seadanya. Tidak pernah ada rasa mengeluh mereka hanya berdoa agar di berikan keselamatan.
Saat itu mereka merasa nyaman Karena alam telah menyediakan kebutuhan hidupnya. Yaitu buah- buahan dan umbi-umbian.
Saat itu di sebutkan bahwa dalam sejarah cerita ada seorang pertapa datang ke desa Gunung sari untuk memilih melakukan pertapaan dan di pilihnya-lah suatu tempat di sebelah timur dari desa sekarang dimana di tempat itu ada pohon beringin besar lengkap dengan goanya dan sampai sekarang daerah tersebut masih di angkerkan atau di keramatkan oleh masyarakat setempat.
Setelah melakukan pertapaan yang begitu lama seorang pertapa mendapatkan pawisik dari penembahan bahwa warga yang tersisa harus melakukan karya agung dalam menghadapi wabah tersebut.
Upacara pun di laksanakan untuk melakukan pembersihan segala bhuta kala yg menyerang warga.
Pawisik pun datang lagi agar pusat desa di pindahkan ke tempat sekarang dan saat itu mulailah di beri nama desa Gunung sari menjadi desa Sidetapa. (Sidatapa) yang artinya Sida = mampu dan tapa = meditasi (beryoga).
Sidatapa = mampu mencapai tujuan melalui tapa
Tujuan yg di maksud adalah terbebas dari serangan gerubug Dan di katakan mulai saat itu kehidupan masyarakat mulai berjalan normal kembali.
Bersyukur sekali ada pawisik saat itu melalui seorang pertapa sehingga kami masih bisa hidup sampai sekarang.
Mohon maaf jika ada kekurangan dalam tulisan .
Ini hanya sebuah pengalaman masa lalu yg mungkin bisa di anggap sebagai gambaran masa kini.
Kesimpulannya bahwa :
*Wabah tidak usah di lawan namun di hindari Karena wabah tidak kelihatan.
*Terapkan pola disiplin dalam melakukan pengasingan atau karantina mendiri sambil melakukan doa agar terbebas dari wabah.
*Yakinlah semua pasti berlalu.
*Bagi rekan rekan wartawan yang mau menyalin tulisan ini ke artikel nya di persilahkan dan sumber informasi ini saya Dapatkan melalui postingan facebook Wayan Ariawan.
*Semoga pengalaman ini bisa kita pakai cerminan bersama untuk Mencegah Covid-19 ini.
Yg mau share di persilahkan.
Terima kasih
Comments
Post a Comment