![]() |
| Sumber Foto : Facebook Sembiran |
Om Swastyastu,
Sebagai salah satu Desa Tua Bali Mula ( Bali Aga), Sembiran memiliki banyak sekali hal yang berkaitan dengan skala dan niskala. Bahwa segala yang terjadi di dunia tidak pernah lepas dari campur tangan dari Ida Sang Hyang Widhy Wasa, Tuhan Yang Maha Esa dan yang terlibat didalamnya tidak hanya disebabkan oleh Manusia tetapi juga oleh Bhuta Kala atau unsur lain.
Melihat kondisi sekarang dengan berbagai penyakit dan kejadian yang menimpa Dunia, Pulau Bali, dan khususnya masyarakat Desa Sembiran, para leluhur terbiasa untuk selalu menyikapi dengan arif dan bijaksana tanpa menyalahkan pihak manapun, namun lebih kepada rasa di hati untuk introspeksi diri dan melakukan tindakan preventif untuk mencegah, menghalau serta meminta doa keselamatan kepada Leluhur dan Para Dewa Dewi yang berstana di Desa Sembiran agar diberkati keselamatan.
Salah satu bentuk tindakan pencegahan dan permohonan doa keselamatan tersebut adalah dengan memasang "PENYAWENAN".
Penyawenan ini terdiri dari 2 bambu kecil (Buluh) yang diatasnya dipasang Janur kuning serta disematkan 3 unsur sebagai pelengkapnya, yakni: Daun Kayu Tulak, Duri berbagai jenis dan Daun Kayu Joh serta diikat dengan Benang Tri Datu sebagai Simbol Tri Murti ( Dewa Brahma sebagai pencipta, Dewa Wisnu sebagai pemelihara dan Dewa Siwa sebagai pelebur).
Penyawenan ini biasanya dipasang di depan rumah dengan harapan menghalau segala jenis kejahatan dan penyakit agar keluarga terhindar dari segala macam marabahaya.
Jika di wilayah jalan masuk ke Desa Sembiran ada yang disebut dengan "KUTA KURUNG", sebagai penetralisir, maka fungsi Penyawenan ini dalam lingkup kecil yakni keluarga dan wilayah sekitarnya. Secara konsep, Penyawenan dan Kuta Kurung memiliki bentuk dan fungsi yang identik dengan tujuan yang sama yakni meminta keselamatan dan menghalau segala macam kejahatan serta penyakit.
Rahajeng Rahina Nyepi 1942, dumogi state nemu kerahayuan majeng ring semeton sinamian lan jagat Bali.
Semoga bermanfaat
Salam Rahayu
Om Santih, Santih, Santih Om

Comments
Post a Comment